Archive for February, 2006

Kemana Perginya IGOS?

Wednesday, February 22nd, 2006

"Kita ingat, setelah gonjang-ganjing razia warnet pemerintah melalui
BPPT dan Depkominfo menggulirkan IGOS sebagai jalan terbaik mengatasi
ketidakmampuan warnet membeli software berlisensi. Namun, peristiwa
terakhir mempertontonkan pada kita kedigjayaan Microsoft. Ingat juga
bagaimana seorang Presiden RI malah datang ke markas besar Microsoft di
Redmond bukan sebaliknya. Indonesia…"

Igos
Beberapa waktu lalu saya berkesempatan bertanya kepada Menkoinfo Sofyan Djalil dalam sebuah sesi media mengenai proyek Indonesia Goes Open Source (IGOS). Konteks pertanyaan ini adalah penandatanganan MOU antara Depkominfo dengan Microsoft Indonesia yang menyiratkan tekanan Microsoft terhadap pemerintah Indonesia serta naluri "ngga mau repot" dari pemerintah.

Depkominfo setuju menggunakan produk Microsoft (anda tahu sendiri harganya) dari hulu ke hilir serta akan mengimplementasikannya ke seluruh kantor pemerintahan sebagai bagian dari E-Goverment. Kompensasi dari Microsoft cuma diskon 30% namun pemerintah didesak untuk terus berkampampanye mengenai anti pembajakan serta mendorong lahirnya regulasi mengenai hal tersebut.

Kita ingat, setelah gonjang-ganjing razia warnet pemerintah melalui BPPT dan Depkominfo menggulirkan IGOS sebagai jalan terbaik mengatasi ketidakmampuan warnet membeli software berlisensi. Namun, peristiwa terakhir mempertontonkan pada kita kedigjayaan Microsoft. Ingat juga bagaimana seorang Presiden RI malah datang ke markas besar Microsoft di Redmond bukan sebaliknya. Indonesia…

Ini merupakan tamparan cukup keras bagi kreatifitas bangsa ini dalam pengembangan teknologi informasi…

Hakim bagi Anak Pintar

Wednesday, February 22nd, 2006

"FastFace menjadi sorotan juri karena mampu menerapkan  AI (Artificial
Intelligence) kedalam sebuah aplikasi yang menyenangkan, pembanding
wajah. Menggunakan kamera ponsel guna menangkap gambar wajah maupun
yang telah tersedia dalam media penyimpan,..
"

Mlite
Beberapa waktu lalu saya berkesempatan menjadi juri bagi kompetisi perancangan aplikasi untuk perangkat bergerak (handphone, pda dan so on) di ITB bertajuk M-Lite. Acara ini digelar bersamaan dengan gelaran IT Within yang diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Informatika ITB. Dalam acara ini pula saya menjadi saksi kunci bagaimana teknologi maju ternyata sudah akrab dengan para mahasiswa teknik di Indonesia. Anak-anak pintar, lah.

Acara marathon semalam dua hari ini menghasilkan tiga pemenang: 1. Fast dengan FastFace dari ITB, 2. Kecebong dengan MobileMagz dari UKSW dan 3. PalS dengan Pals dari ITB (lagi).

FastFace menjadi sorotan juri karena mampu menerapkan  AI (Artificial Intelligence) kedalam sebuah aplikasi yang menyenangkan, pembanding wajah. Menggunakan kamera ponsel guna menangkap gambar wajah maupun yang telah tersedia dalam media penyimpan, gambar wajah tersebut bisa dibandingkan kemiripannya. Algoritma yang digunakan mereka adalah Eagenface yang berbasis statistik. Semakin dekat angka kesamaan statistiknya, semakin mirip wajah tersebut. Menurut mereka, aplikasi ini digunakan untuk mencari jodoh. Cool!! 

Dalam ajang ini pula memperlihatkan bagaimana teknologi Java lebih banyak digunakan dibanding Microsoft. Hal ini membuat salah satu juri yang merupakan staf Microsoft berkerut kening. Hehehe.

Tentang Hujan Bukan di Bulan Juni

Thursday, February 2nd, 2006

Hujan di Jakarta kali ini menitikkan banyak pesan…
tentang siang yang aku jejaki..
tentang malam dalam pikiranku…
tentang pilihan di keruwetan jalan hidup..
tentang titik yang dituju…
tentang seseorang sampai ujung nyawa… di Bandung…

Kemarin dan Hari ini

Thursday, February 2nd, 2006

Banyak hal terlewatkan, bahkan sesuatu yang amat penting, dia di Bandung. Pekerjaan baru membunuh semua waktu luang. Maafkan ya. Mungkin di depan g akan cari pekerjaan lain yang bisa dilakukan dekat bahkan dengan k.

Menjadi seorang redaktur yang bekerja sendirian itu memang2 sulit apalagi untuk majalah yang menuntut reputasi internasional. Kondisi dan permintaan yang amat sangat tidak rasional! Percayalah, kita tidak punya aktifitas jurnalistik yang normal. 

So,  sekali lagi maaf  untuk  dia di Bandung.