Joe Satriani di Kemang
Friday, May 20th, 2005"Di sisi performance, saya tidak sedikitpun merasakan atmosfir
Joe Satriani pada permainan mereka, terutama untuk gitaris. Lead
seringkali tidak akurat dan terpeleset fals. Belum lagi teknik
kebanggaan gitaris handal Amerika ini, two-hands-tapping, sering dimainkan tidak dengan baik. Fast-arpeggio yang sering kali patah di tengah membuat kami tersenyum getir. Ohhh…."
KEMARIN lalu saya diajak seorang kawan untuk menonton acara bertajuk "Joe Satriani Night" di Barbados Cafe, Kemang, Jakarta Selatan. Dia menjemput ke kantor dan mampir ke kosan dulu untuk mandi dan memakai sepatu (saya ke kantor bersandal saja waktu itu, upps!).
Tiba di venue sebelum masuk arena kami mendengar ada band pembuka sedang bermain. Ah, kiranya sedikit terlambat. Lalu setelah membeli tiket seharga Rp. 75.000;, cukup mahal, kami segera menuju meja yang kosong.
Tepat setelah kami duduk, MC memperkenalkan band yang akan tampil berikutnya, band utama, Jabris. Band ini dipimpin oleh Opick (begitu tulisannya dalam katalog acara), mantan gitaris Bayou, kelompok musik rock lokal ‘90 an yang lumayan terkenal.
Ketika mereka memulai intro lagu pertama, Saya langsung mengernyitkan dahi. Bukan karena terpesona tapi sound system terdengar hancur-lebur. Feedback terus terjadi serta tata suara yang selalu tidak seimbang dan harmonis. Suara gitar sangat pecah! Bass Drum seperti sedang marahan dengan Bass Guitar. Untuk ini, saya pribadi sudah mafhum karena tahunan bermain di atas stage yang mereka pakai itu. Ruang akustik memang sangat buruk sehingga mempersulit pekerjaan sound engineer.
Di sisi performance, saya tidak sedikitpun merasakan atmosfir Joe Satriani pada permainan mereka, terutama untuk gitaris. Lead seringkali tidak akurat dan terpeleset fals. Belum lagi teknik kebanggaan gitaris handal Amerika ini, two-hands-tapping, sering dimainkan tidak dengan baik. Fast-arpeggio yang sering kali patah di tengah membuat kami tersenyum getir. Ohhh….
Namun demikian, dalam setiap kondisi selalu ada sisi baik. Sisi baik ini didapatkan dari Pendulum, kelompok musik bergenre Progressive Rock, yang menjadi penyela break Jabris. Komposisi karya mereka sangat bagus. Banyak pengaruh dari Dream Teather bercokol dalam karya mereka. Pemain drum yang bernama Michael menjadi sumber dinamika beat mereka. Perubahan nilai birama selalu mulus dipimpin oleh drummer yang juga instruktur di PMS (Purwacaraka Music School) ini. saya juga mendapatkan kepuasan ekplorasi permainan gitar dari gitaris mereka (berdua). Salah satu gitaris mereka adalah staf Metro TV. Mereka akan membuka konser Discus, kelompok musik sejenis dari Indonesia yang memiliki reputasi internasional, di Gedung Kesenian Jakarta pada waktu yang akan datang.
Selesai penampilan Pendulum, Jabris kembali ke pentas. Kami sepakat jika dalam 30 detik mereka tampil seperti sesi pertama maka kami akan pergi. Belum selesai 30 detik mereka tampil, kami bergegas pulang!
PEKERJAANKU kemarin-kemarin menemukan hal yang menarik yaitu berbincang dengan seorang story teller atau pendongeng bagi anak-anak. Sambil memegang boneka-boneka lucunya ia bercerita soal pengalamannya menjalani profesi tersebut. Pria berkaca mata ini cukup unik karena masih berusia muda sebab biasanya mereka yang menjalani profesi tersebut sudah cukup tua.