Archive for March, 2005

Bisakah Sifat Pelupa Dilupakan?

Sunday, March 27th, 2005

"Satu lagi yg paling ganjil: Gw pergi ke sekolah buru2 karena udah telat
bangeeeettt. Pas nyampe yg ada cuma satpam yg terheran-heran. Eh,
ternyata hari itu HARI MINGGU!!!"

Forget_jpgGw pelupa berat. Ngga usah disangsikan. Udah puluhan orang tau kalo gw rada error untuk hal ini. Tarafnya udah berat. Menurutku, gw ngga bisa nge-handle barang-barang kecil diantara banyak barang laen. Kalau udah fokus ama sesuatu pasti lupa sama yang laen.

Catatan "perlupaanku": Mobil ketinggalan di sekolah dan kampus, hape ilang berbelas kali (pernah dalam sebulan ada 5 kali), nyimpen hp diatap mobil dan cuek aja mobilnya dijalanin, parkir mobil lupa ngga dihand-brake hingga kecebur sungai, lupa banyak nama orang termasuk teman dekat sendiri, ninggalin orang. Ada yang paling lucu, ikut mata kuliah sampai satu semester, pas ujian akhir disangkain joki karena ngga bisa liatin nama mata kuliah itu di KRS (Kartu Rencana Studi). Eh, ternyata gw emang belon daftarin mata kuliah itu. Gile rajin kuliah padahal bukan kuliah gw.

Satu lagi yg paling ganjil: Gw pergi ke sekolah buru2 karena udah telat bangeeeettt. Pas nyampe yg ada cuma satpam yg terheran-heran. Eh, ternyata hari itu HARI MINGGU!!!

Beberapa hal yg gw sukar lupakan: Parfum dan bebauan, gw bisa ingat seseorang dan ruang dg baunya. Suara, bisa langsung inget siapa orang itu walaupun pake private number. Gambar, apa konteksnya. Notasi lagu dan isi buku (terutama abstraknya). Tentu saja, kenangan baik dan buruk.

Btw, Bisakah sifat pelupa dilupakan?

Wajah Sebuah Buku

Thursday, March 24th, 2005

"Di sisi kreatif, sebenarnya saya cuma membayangkan isi buku ini saja.
Persoalannya, isi buku ini terlambat datang ke hadapan saya sementara cover-nya sudah dikerjakan. Aneh, kan?"

CoverbukuGambar
sebelah kiri tulisan ini adalah karya pertama saya untuk cover buku.
Buku yang baru saja terbit ini berjudul "Konflik dan Pemilu", sebuah
kompilasi hasil penelitian dan diskusi kelompok peneliti bernama Interseksi yang didukung oleh Tifa Foundation.

Saya bukan desainer visual yang baik. Saya selalu merasa seekor kutu loncat alias menclok sana-sini.
Kelemahan tipikal orang seperti itu biasanya adalah kurangnya konsentrasi pada detail.

Di sisi kreatif, sebenarnya saya cuma membayangkan isi buku ini saja.
Persoalannya, isi buku ini terlambat datang ke hadapan saya sementara cover-nya sudah dikerjakan. Aneh, kan?

Wajah
buku ini sejujurnya hanya diselesaikan dalan dua jam saja di Bandung
(saya tidak mengerjakan apapun di kantor selain peruntukannya). Software Photoshop cukup membantu terutama di Brush-nya dan teknik montage foto. Tampak terburu-buru memang, soalnya beberapa jam lagi saya harus kembali ke Jakarta.

Seringkali saya bingung mengorientasikan diri. Sudah lama ngulik musik dan multimedia (video, web dan new media
lainnya), mengajar, lalu sering terlibat dengan hal-hal muskyil, tidak
satupun menjadi spesial. Tapi, memang harus begitu, kali?

Aku Takut Iwan Mati

Thursday, March 24th, 2005

"Iwan, yang tidak Fals, bukan sekedar musik, ia adalah sependaran lilin tua di rumah kita. Dan, aku takut dia mati. Aku takut gelap. Aku juga
takut tak bisa mengenali wajah orang-orang."

01iwanBegitulah. Sejak pertama dengar teriakannya, aku anggap itu dibanding sebuah nyanyian, sejak itu pula aku tersadar begitu banyak rintihan tak terekam pita jaman. Sebuah sudut gelap tak berlampu. Sebuah rumah tak beratap. Seorang anak kecil tak berbaju di perempatan jalan. Seorang kriminal  yang  terpaksa. Segerombol bandit di parlemen. Seorang pelacur yang resah. Pengorbanan seorang ibu.

Percikan api itu terlempar saat tape mobil yang aku naiki mewujudkan Iwan di telingaku. Perjalanan dari Jakarta ke kampung halaman, Bandung, layaknya sebuah kontemplasi. Termasuk rasa bersalah karena masih diberi kesempatan duduk di kursi sebuah mobil yang harganya cukup untuk memberikan kesempatan hidup bagi anak-anak di simpang jalan Tugu Pancoran sampai mereka dewasa.

"Iwan, yang tidak Fals, bukan sekedar
musik, ia adalah sependaran lilin di rumah kita. Dan, aku
takut dia mati. Aku takut gelap. Aku juga
takut tak bisa mengenali wajah orang-orang."

Ucapkan Terima Kasih

Thursday, March 24th, 2005

"Pembatasan itu sendiri sebenarnya kurang etis. Selain itu, mempertontonkan
sikap paranoid maupun arogan sangat tidak baik bagi bangsa yang
butuh bantuan besar ini."

TsunamiSudah hampir dekat tengat waktu yang diberikan pemerintah Indonesia bagi para relawan asing untuk meninggalkan Aceh. Namun, saya pribadi belum pernah mendengar maupun meilhat ada pernyataan terima kasih bagi mereka dari pemerintah kita sendiri. Saya kira hal itu perlu untuk memperlihatkan bahwa bangsa ini beradab.

Pembatasan itu sendiri sebenarnya kurang etis. Selain itu, mempertontonkan sikap paranoid maupun arogan sangat tidak baik bagi bangsa butuh bantuan besar ini.

Mari kita tunggu ucapan itu. Kita harapkan terlontar dengan tulus di sebuah forum internasional semisal PBB.

Seorang Sahabat Australia di Aceh

Wednesday, March 23rd, 2005

   
      

Sahabat
saya, seorang perempuan muda Australia, baru saja kembali ke Jakarta
setelah tepat dua bulan tinggal di Banda Aceh, NAD setelah ikut
membantu saudara-saudara kita yang menjadi korban bencana Tsunami, 26
Desember tahun lalu. Ketika bertemu di tempat kosnya, kebetulan dekat
dengan kos saya, dia tetap memancarkan semangatnya yang selalu optimis
akan segala sesuatu. Tidak pernah terdengar keluhan apapun ketika kita
berbincang-bincang soal dirinya selama di Aceh. Menurutnya hari Senin,
minggu depan, dia segera terbang lagi ke Aceh untuk melakukan pekerjaan
yang sama.

"Terima kasih teman. Kamu
telah menunjukkan makna kasih-sayang tanpa batas ras, ideologi dan
negara."

Beberapa hari sebelum bencana itu kami sudah membuat semacam  farewell party
karena dia akan pulang ke Sidney, Australia dalam jangka waktu lama.
Dia rindu kepada orang tuanya. Namun, tak lama kemudian bencana itu
terjadi. Lalu, sang sahabat itu sudah muncul lagi di hadapan saya
dengan segala kesiapan untuk segera berangkat ke Aceh. Saya kira hanya
kecintaannya saja pada manusia dan Indonesia yang menyebabkan ia
memperpendek kunjungan ke keluarganya.

Terima kasih teman. Kamu
telah menunjukkan makna kasih-sayang tanpa batas ras, ideologi dan
negara. Take care… sebab banyak tempat yang belum kita kunjungi untuk
joget-joget hahahahaha….

   
   

Wawancara Soal Blog

Wednesday, March 23rd, 2005

Dibawah ini adalah tulisan yang memuat pernyataan saya soal Blog. Dimuat di Harian Pikiran Rakyat, Bandung, Selasa, 20 Juli 2004.
______________________________________________________________________________________

Diary Online Bernama Blog
         
          Friday, July 02, 2004


ok.. its july 2nd. its my 11th anniversary for my menstruation! hah! sudah berapa ribu  pembalut yang gua pakai..berapa ribu jam yang gua habiskan sambil mengerang kesakitan
karena rutinitas mens ****** itu! kenapa mesti sakit sih klo mens!

      

SEKILAS, nampak seperti sebuah sarkasme terhadap kodrat, bukan? Tapi itulah yang bakal keliatan dari  sebuah situs internet yang "koordinat"-nya ada di www.perihijau.blogspot.com. Dan, situs itu  bernama: blog. Blog?

Namanya emang aneh, apalagi kalo kita coba cari sinonimnya (klik kanan dikata  "blog", dijamin enggak bakal nemu padanan katanya, hehehe). Well, kita nggak bakalan terlalu masalahin nama ‘kan? Blog, menurut Bang Enda Nasution dalam blog-nya, www.enda.goblogmedia.com, adalah kependekan dari Weblog, istilah yang pertama kali digunakan Jorn Barger di bulan Desember 1997. Jorn Barger menggunakan istilah Weblog untuk menyebut kelompok website pribadi yang selalu diupdate secara kontinyu dan berisi link-link ke website lain yang mereka anggap menarik disertai dengan komentar-komentar mereka sendiri.


Lantas, blog berkembang mencari bentuk sesuai dengan keinginan pembuatnya, blogger. Pada awalnya, blog adalah sebuah wadah untuk menuangkan catatan perjalanan blogger terhadap situs-situs di internet yang mereka kunjungi dan buat link, dan lalu diberi komentar dan opini pribadi. Dan dari komentar-komentar ini, kita bisa ngintip "isi kepala" sang blogger.


Sebuah blog, lalu tidak lagi memuat link-link, tapi hanya berupa tulisan soal apa yang blogger pikirkan, rasakan, hingga apa yang dilakukan sehari-hari. Blog kemudian juga menjadi diary online yang berada di internet, yang tentunya dibuat untuk dibaca orang lain. Para blogger dengan sengaja mendesain Blog-nya dan isinya untuk dinikmati orang lain.


Jadi, jangan heran kalo Belia dateng ke sebuah blog, dan liat postingan-postingan soal lifestyle, daily lives, atau hal-hal lain yang dianggap menarik sama sang blogger. Sebuah hal yang unik dan menarik, misalnya waktu kita klik www.perihijau.blogspot.com. Di situ kita dipaksa bergulat dengan pemikiran Lioni, sang empunya, yang postingan terakhirnya soal
tahun ke-11 dimana cewek ini dapet menstruasi, hehehe. Unik!


Dan inilah blog: sebuah wadah berekspresi dan menyatakan diri di dunia maya, lewat pemikiran yang ditransformasikan ke dalam bentuk tulisan. Buktinya, Lioni.


"Blog itu bukan hal yang baru di internet. Blog adalah sebuah bentuk evolusi dari
Buletin Board System (BBS) yang bentuknya lebih personal," kata Gin2, seorang
pemerhati media yang sempet Belia interview. Lalu, kenapa mesti bikin blog, bukannya
website aja?


"Sebenernya bisa aja orang-orang bikin situs dan menyatakan dirinya dalam situs
pribadi mereka, yang lebih mewakili. Tapi untuk membuat sebuah situs, memang tidak mudah.
Perlu ada keahlian khusus," papar musisi sekaligus dosen ini.


Okke, pemilik blog www.sepatumerah.com, punya opini serupa. "Kalo mau ngupdate
webpage, nggak praktis banget. Rujit lah. Lebih gampang blog," katanya. Masalah
desain, misalnya. Belia yang kepengen bertutur lewat kata di blog, nggak usah bingung
mikirin tampilan visualnya kayak gimana. Tenang aja, ada fasilitas bernama template desain
yang biasanya udah disedain situs-situs yang melayani pembuatan weblog gratis. Mau yang  lebih komplit, klik aja www.blogskins.com.

Balik lagi, situs punya sifat yang lebih individual. "Sang pembuat nggak pengen
kalo nanti situsnya sepi. Lebih pasti kalo ikut crowd, seperti weblog," tambah Gin2.
Lewat, blog, kita bisa menyatakan diri secara penuh, dan bisa meng-custom visual sebebas
mungkin. (roby_belia@yahoo.com)***

___________________________________________________________________________________
Versi original bisa anda klik disini.

Malcolm X: Keyakinan yang Membebaskan

Wednesday, March 23rd, 2005

Malcolm2_1"Malcolm X sepantasnya mengingatkan publik dan
pemerintah Amerika Serikat akan pentingnya perdamaian."
Tepat 40 tahun lalu, 21 Februari 1965, tokoh afro-amerika, Malcom-X
meninggal karena ditembak oleh tiga orang bersenjata saat berpidato di
Audubon Ballroom, kota New York. Setelah itu kita kehilangan seorang
tokoh yang memahami agama sebagai pembebas, alat toleransi, pemersatu
dan bukan belenggu maupun penindas. Kualitas yang jarang dimiliki oleh
manusia beragama. Malcolm X sepantasnya mengingatkan publik dan
pemerintah Amerika Serikat akan pentingnya perdamaian.

Dua Usia, Dua Piano, Dua Jazz

Wednesday, March 23rd, 2005

Indrabubi"Referensi musikal yang berbeda memperkaya arti
sebuah komposisi jazz yang mereka mainkan bersama."

Menyaksikan dua orang terkemuka di dunia jazz Indonesia bermain
bersama merupakan pengalaman yang mengharu birukan saya. Jazz di
Indonesia miskin repertoar dan panggung. Selain itu hanya sedikit saja
pemusik yang dikenal luas secara Internasional. Dua diantara dari
sedikit jazzer itu adalah Indra Lesmana dan Bubi Chen.

Konser yang digelar pada hari Rabu, 16 Februari 2005 di Graha Bakti Budaya, Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta dan bertajuk  2 Love Jazz - The Art of Duo
ini bisa diibaratkan naik kereta api di atas rel berkelok-kelok,
naik-turun dan jendela yang dibiarkan terbuka untuk menikmati
pemandangan indah. Referensi musikal yang berbeda memperkaya arti
sebuah komposisi jazz yang mereka mainkan bersama. Walaupun hanya
karya-karya standar mereka mainkan tetap saja saya bisa membedakan mana
sentuhan Indra dan mana milik Bubi ketika mereka mengeksplorasi
komposisi tersebut.

Diluar itu ada yang cukup mengganggu ketika sound engineer tidak cepat tanggap terhadap ketidak seimbangan gain kedua piano. Seringkali saya terganggu oleh suara piano Indra, yang seharusnya sangat bagus, terdengar pecah di loudspeaker sehingga seringkali menenggelamkan dentingan piano Om Bubi.

(Hantu-5: Penutup) Budaya Mistisisme di Sekitar Kita

Wednesday, March 23rd, 2005

Mistik"Namun, sekali
lagi, konsep ini harus terjelaskan dengan baik. Itulah mengapa kami
bersusah-payah ingin mengalami sendiri kehadiran hantu."

Sadar maupun tak sadar banyak nilai-nilai yang dproduksi oleh
kepercayaan akan hal-hal di luar nalar konvensional (logika). Nilai
tersebut seringkali masuk dalam dinamika interaksi sosial-budaya,
termasuk konsep tuhan sendiri yang menjadi fondasi kesadaran kebanyakan
orang. Lihatlah media sebagai salah satu teropong situasi masyarakat
yang akhir-akhir ini kerap menyuguhkan tontonan berbau mistik baik
sinetron, film maupun program lain. Atau, perhatikan bagaimana otoritas
keraton Jogjakarta menyikapi datangnya badai dengan mengajak masyarakat
membuat sayur lodeh ataupun menteri agama periode lalu, yang notabene
adalah seorang guru besar, mencoba menggali situs purbakala untuk
mengeruk harta karun hasil rekomedasi seorang cenayang .

Hadirnya
mistisisme tidak didominasi oleh budaya timur saja (sebenarnya dengan
alasan khusus saya enggan menggunakan istilah "budaya timur-barat")
tapi juga barat. Beberapa konsep "hantu barat" seringkali diadaptasi
oleh budaya kita semisal pesta Hellowen, Dracula, dll. Barat mungkin
lebih penasaran dibanding timur dengan mengembangkan disiplin ilmu
baru, Parapsikologi. Disiplin ini khusus mengkaji fenomena-fenomena
ganjil.

Agama tentu saja ikut berpartisipasi dengan hal ini.
Agama besar seperti Islam, Kristen dan Yahudi memperkenalkan konsep
Setan, Jin dan Malaikat yang identik dengan alam metafisik. Tak ayal
sebagian besar penduduk dunia sebenarnya mengapresiasi dunia mistisisme
baik secara doktrinal maupun pengalaman pribadi.

Namun, sekali
lagi, konsep ini harus terjelaskan dengan baik. Itulah mengapa kami
bersusah-payah ingin mengalami sendiri kehadiran "hantu".

(Hantu-4) “Penampakan” di Pemakaman Jakarta

Wednesday, March 23rd, 2005

Hantu4"Benar saja, tak
lama kemudian angin berhembus keras lagi disertai hamburan tanah dari
atas. Lalu udara menjadi dingin dan terdengar suara "Kuk-kuk-kuk"."

Akhirnya kesempatan membuktikan "penampakan" dengan lokasi yang kami
tunjuk sendiri akhirnya dilaksanakan pada hari Jumat, 11 Maret. Kami
memilih sebuah pemakaman di sebuah lokasi di Jakarta. Area yang terbuka
dan mudah diantisipasi untuk mengeliminasi jika sang paranormal
melakukan penipuan, misalnya menyimpan orang-orangnya sebelum kami
datang ke lokasi.

Angin Kencang dan Lemparan Tanah
Setelah
menjemput sang paranormal di hotel kami bergegas ke lokasi dengan tiga
buah mobil berisikan orang-orang penasaran. Mobil kemudian dimasukkan
ke area tersebut dan tepat saat lampunya dimatikan maka gelaplah
suasana. Ritual di sekitar mulai dilakukan dengan membakar kemenyan dan
menyalakan obor kaleng minyak tanah. Hal yang tak lazim adalah dua
orang asistennya berjualan garam di pemakaman. "Garam adalah makanan
favorit para arwah," demikian keterangan sang paranormal asal Jember,
Jawa Timur ini.

Sementara itu secara rahasia saya
mengintruksikan teman-teman untuk menempati setiap penjuru makam yang
telah kami tentukan sebelumnya. Empat orang kami perintahkan untuk
mengawal dua asisten itu.

Sang paranormal mengajak dua orang
cameramen yaitu saya sendiri dan seorang rekan untuk masuk ke spot
utama, sebuah area seluas kira-kira 100 meter persegi dan berjarak 100
meteran dari mobil kami parkir.

Selama setengah jam berlalu
tanpa ada apa-apa. Kemudian, tiba-tiba angin berhembus keras selama
lebih dari satu menit dan menggoyangkan pohon-pohon. Kondisi ini terus
kami konfirmasikan ke teman saya agar dapat gambaran obyektif. Setelah
angin berhenti kami diminta istirahat sejenak menunggu kedatangan angin
kedua yang pasti lebih lama(kata sang paranormal). Angin kedua ini
katanya lagi adalah tanda kedatangan mereka.

Benar saja, tak
lama kemudian angin berhembus keras lagi disertai hamburan tanah dari
atas. Lalu udara menjadi dingin dan terdengar suara "Kuk-kuk-kuk". Kami
diminta siaga dan mengarahkan kamera ke arah semak-semak yang berjarak
sekitar tiga meter di hadapan kami. Lalu, munculah sosok yang gambarnya
bisa anda lihat di atas tulisan ini. Sebuah sosok yang menurut anggapan
orang adalah "Pocong". Wajahnya rusak dengan mata besar dan
berkedip-kedip. Kami terus saling konfirmasi. Ketegangan cuma terasa
selama 10 detik pertama saja selebihnya adalah kepenasaran dan rasa
kasihan. Saat itu waktu menunjukkan pukul 01.16 WIB.

Namun, tak
lama kemudian ada sosok baru muncul sekitar 10 meter dari "Pocong" itu,
sesosok perempuan dengan rambut lebat dan panjang yang menutupi
mukanya. Kedua "hantu" ini berbungkus kain putih. Penampakan mereka
hampir selama setengah jam. Setelah itu kami diminta mundur dengan
alasan sang paranormal akan menyempurnakan arwah penasaran ini agar
tidak gentayangan. Kami mundur dengan hati dongkol.

Paradoks: Semakin Jelas Semakin Skeptis
Itulah
yang terjadi karena hantu itu agak manusiawi jadinya kita malah skeptis
dan agak menganggap itu hasil rekayasa. Kita kekurangan parameter untuk
mengukur realitas "hantu".

Beberapa Keanehan dan "Keanehan"
Keanehan
pertama adalah dia bisa menunjukan usia makam tanpa melihat dulu
nisannya. Terus, bagaimana dia bisa meramalkan datangnya angin? Lalu,
bagaimana dia menempatkan orang di dekat area padahal area ini sudah
kami kepung? Warna putih adalah warna yang paling terlihat di area
gelap (sebetulnya tidak terlalu gelap karena ada cahaya bulan) tapi
tidak seorangpun bisa melihat seseorang berganti kostum atau ada
gerakan-gerakan kain putih sebelum penampakan. Kemudian pada saat
penampakan kami mengarahkan kamera ke posisi dua orang asistennya dan
mereka ada di sana.

"Keanehan" yang terjadi adalah tidak adanya
peristiwa kuburan yang terbelah menyusul getaran di setiap kuburan yang
diklaim bakal terjadi. Kami memang selalu fokus ke sebuah kuburan yang
bakal terbelah dan mengeluarkan asap yang menjadi "pocong". Ternyata,
"pocong" muncul dari semak-semak. Sepertinya orang ini ingin mengecoh
kami. "Keanehan" lainnya adalah pada saat akan terjadi penampakan kami
disuruh mundur dan relatif sulit memandang ke spot penampakan tersebut.
Setelah kami menghampiri baru terlihat pocong tersebut. Terus kami
tidak bisa merekam hilangnya kedua "hantu" tersebut karena diminta
mundur kembali dengan alasan terlalu banyak orang untuk proses
penyempurnaan.

Tetap. Kami belum bisa mengkonstruksi pemikiran soal "hantu" ini. Ada yang bisa membantu atau pernah mengalami "hantu"?